
Source: istockphoto.com
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah menyebabkan banyak perusahaan teknologi besar mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam produknya. Contohnya saja Google berupaya mengintegrasikan AI ke dalam Gmail, Drive, Dokumen, dan lain sebagainya.
Selain produk yang membantu pengguna melakukan pekerjaannya, perusahaan juga berinvestasi di bidang lain dalam memanfaatkan AI. Google membuat prototipe Augmented Reality Microscope (ARM) untuk membantu dokter mendeteksi kanker. Prototipe tersebut dikembangkan bersama Departemen Pertahanan dan menggabungkan peningkatan kecerdasan buatan, ini memberikan indikator visual seperti peta panas atau batas objek secara real time.
Ahli patologi menggunakan mikroskop untuk melihat slide yang berisi sampel biologis seperti jaringan atau darah dan melengkapi bidang pandang dengan proyeksi yang ditingkatkan seperti peta panas, batas, atau anotasi. Hal itu dipindahkan ke lokasi baru atau perbesarannya diubah secara real-time.
ARM pertama kali diumumkan ke publik pada tahun 2018 dan belum digunakan untuk mendiagnosis pasien. Ternyata ada 13 prototipe ARM yang sedang diuji coba sehingga bisa membantu para dokter dalam kehidupan sehari-hari.
Google berharap dapat menciptakan sistem yang dapat dipasang pada mikroskop cahaya yang ada di rumah sakit dan klinik. Mikroskop yang dilengkapi ARM dapat memberikan masukan visual termasuk teks, panah, garis besar, peta panas, atau animasi yang disesuaikan untuk tujuan evaluasi unik.
Bulan lalu, muncul laporan bahwa Google sedang menguji chatbot AI generatif mirip Bard yang dapat memberikan saran kepada pengguna saat mereka merasa sedih. Unit kecerdasan buatan Google yang baru, Google DeepMind, telah mengembangkan setidaknya 21 jenis solusi kecerdasan buatan yang berbeda. Perusahaan bekerja sama dengan kontraktor Scale AI untuk mengevaluasi kemampuan chatbot dalam menjawab pertanyaan intim.
Source:
- https://www.uma.ac.id/
- https://tekno.republika.co.id/berita/s1bspr478/bantu-deteksi-kanker-google-garap-mikroskop-bertenaga-ai